Vanila Shina
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Friday, September 25, 2015

My First Love (Cerpen) ~ Freelance




Title : My First Love
Author : Qonitah Rahmawati H
Genre : Friendship, Romance
PG : 13

Note : Wajib Baca!! Anggaplah thypo itu sebagai hadiah dariku sebagai author and DON'T COPAS OR PLAGIAT!!!

~Happy Reading~

Cinta, apa itu cinta? Aku fikir itu adalah sebuah kalimat klise, karena begitu banyak definisi tentang cinta, bicara tentang cinta pasti tidak akan pernah terlepas dari yang namanya cinta monyet, cinta brotosaurus ala Raditya Dika, dan cinta SMA.
          Bicara  cinta SMA atau sekarang lebih tren dengan nama Cinta Putih Abu-Abu, tapi aku rasa itu tidak berlaku untukku karena beberpa faktor yang sangat mempengaruhi terhambatnya Cinta Putih Abu-Abuku, pertama aku bukanlah orang yang terlalu ambisius terhadap yang namanya pacaran ataupun menjalin sebuah hubungan karena aku selalu menekankan pada diriku sendiri bahwa ‘pacaran itu bukanlah hal yang harus aku kejar, itu tidak penting, ya setidaknya itu bukanlah hal yang penting untuk saat ini’ , faktor kedua mungkin karena aku memang tidak menarik tapi aku fikir itu bukanlah sebuah kemungkinan lagi karena itu adalah sebuah kenyataan jadi itu bukan hal yang mustahil jika cinta putih abu-abuku terhambat. Faktor ketiga mungkin karena aku selalu dikelilingi oleh tiga pangeran tampan, tapi aku tidak akan pernah menyangkal jika orang lain mengatakan aku adalah si cewek jomblo dan aku hanya akan menanggapi mereka dengan kata-kata yang sangat jelas “Ini pilihanku, dan ini yang disebut dengan sebuah pilihan hidup, mungkin untuk saat ini pacaran bukanlah hal yang penting untukku tapi siapa yang tahu dengan masa depan seseorang? Mungkin dimasa depan sesuatu yang aku anggap tidak penting itu akan menjadi sangat penting untukku“ ya kira-kira seperti itulah jawaban yang akan aku berikan pada mereka.
          Kehidupanku sebagai remaja SMA tidak terlalu buruk bahkan terkesan sangat datar, baiklah aku berbohong dengan kata-kata tidak terlalu buruk, karena pada kenyataannya ini benar-benar petaka, apa kau pernah mendengar kata-kata ini, semakin tinggi jenjang pendidikanmu maka akan semakin tinggi pula ilmu yang akan kau dapat. Aku percaya dengan kata-kata itu, sungguh... bahkan sangat percaya hingga rasanya aku nyaris frustasi jika dihadapkan dengan soal-soal matematika, aku heran kenapa harus ada matematika didunia ini, ini tahun ketigaku di SMA dan aku harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mencapai targetku agar aku bisa lulus SBMPTN dan diterima di universitas yang aku inginkan. Pagi ini pak Hendra memanggilku untuk datang ke ruangannya, apa aku membuat masalah? Tapi aku fikir itu tidak mungkin, tanpa aku sadari aku sudah berada tepat didepan ruangan pak Hendra dengan ragu-ragu aku mengetuk pintu itu dan tidak beberapa lama kemudia ada suara yang mempersilahkan aku untuk masuk keruangan itu.
“Permisi pak...”
“Oh... Kania, duduklah” ujarnya sambil menunjuk kursi yang berada tepat di hadapan mejanya.
 “Begini, kau sudah tahu bukan kenapa bapak memanggilmu?” tanyanya dan aku hanya merespon dengan gelengan kepala, aku bisa melihat wali kelasku ini menghembuskan nafasnya berat, terlihat seperti orang yang putus asa.
  “Kania, bapak tahu kau bisa disemua bidang, tapi kenapa nilai Matematikamu begitu mengenaskan? Oleh karena itu Kania, bapak sudah memutuskan, kamu belajar Matematika dengan Dirga. Menurut bapak dia yang terbaik untuk mengatasi masalah kamu tentang Matematika” kata pak Hendra dengan nada yang menunjukkan bahwa dia tidak  bisa dibantah. Tapi tunggu? Kenapa harus Dirga? Menurutku kemampuan Dodi dalam Matematika tidak terlalu buruk. Menyebalkan...
“Maaf pak sebelumnya tapi bisakah saya belajar matematika dengan orang lain saja? Karena saya yakin 100% dia akan terus mengolok-olok saya jika dia tahu saya meminta bantuan darinya” ujarku dengan tampang yang sedikit memelas.
 “Anak ini, memang siapa lagi yang menurutmu pintar dan bisa mengajarimu matematika selain dia? Lagi pula saya rasa hanya dia yang bisa, teman-temanmu yang lainnya pasti sedang sibuk untuk mempersiapkan diri untuk UN dan SBMPTN, sudahlah tidak ada orang lain lagi yang akan mengajarimu. Kau tahu semua orang sedang sibuk, mungkin dia bisa mengubahmu menyukai pelajaran ini dan bisa menaikkan nilaimu yang sangat MENGENASKAN” ujar pak Hendra dengan tangan yang bersedekap didepan dada dan menekankan kata-kata terakhir pada kalimatnya.
“Tapi pak, mana mungkin dia akan semudah itu untuk setuju mengajari saya matematika? “ tanyaku dengan wajah yang terlihat sangat frustasi.
“Emmm, sebenarnya bapak sudah mengatakan langung padanya, dan dia bilang dia akan memikirkannya”
“Baiklah pak terima kasih, mungkin saya rasa saya juga akan memikirkannya” jawabku dan bersiap untuk kembali ke kelasku, sekilas aku dapat melihat ekspresi pak Hendra yang sedang menggeleng frustasi menanggapi sifatku yang keras kepala.
“Dan Kania, jika kau butuh bantuannya dia ada di perpustakaan seusai jam pulang sekolah” astaga pak Hendra, apa aku harus belajar matematika dari orang yang begitu menyebalkan didunia ini? Kau tidak akan percaya jika aku menyebutnya sebagai IBLIS, karena iblis mana yang selalu di agung-agungkan dan digilai oleh banyak murid di sekolah, tapi pada kenyatannya dia memang benar-benar iblis mungkin lebih tepatnya pangeran kegelapan. Aku benar-benar meratapi nasibku, benar-benar kesialan, masa akhir SMA yang tragis dan memprihatinkan.
Aku  berjalan dengan gontai menuju kelasku, tapi langkahku terhenti saat melihat sang pangeran kegelapan memasuki lapangan basket sambil mendribble bola dengan salah satu tangannya, jujur aku mengaguminya aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku benar-benar mengaguminya, dia Dirga tetanggaku yang sangat menyebalkan, kami sudah berteman sejak kecil sebenarnya, tapi jika untuk meminta bantuan aku akan lebih memilih meminta bantuan pada dua sahabatku lainnya Dodi dan Dhani, dua orang pasangan yang menjijikkan, oh... baiklah, aku akan jujur sebenarnya Dodi dan Dhani bukanlah pasangan, tapi aku dan Dirga lebih menyukai menyebut mereka seperti itu.
“Matamu akan keluar, jika kau terus menatapnya seperti itu, apa kau tidak memiliki objek lain selain Dirga? “ astaga, apa-apaan orang ini? Aku menatap orang yang sekarang berdiri dihadapanku dengan tatapan jengah, dan sedikit jengkel “Bisakah kau diam Dhani, dan berhentilah mengatakan jika aku sedang menatap Dirga!, haishhhh... kau benar-benar bermulut ember” ujarku dengan suara yang sedikit meninggi dengan kekesalan yang berada dititik maximum. “Ada apa denganmu? Disini bahkan tidak ada orang, dan aku mengatakannya dengan suara yang pelan bahkan nyaris tidak terdengar. Ayo ceritakan padaku, bukankah kau yang mengatakan sendiri, aku adalah tong sampah untuk semua keluh kesahmu” ujarnya dengan senyuman yang sangat menawan, aku akui ketiga sahabatku adalah sekelompok murid populer disekolah ini, dan semua siswa lebih menyukai menyebut mereka 3D atau yang paling keren menurutku yaitu saat teman-teman sekelasku menyebut mereka dengan sebutan  bodyguard Kania kekeke... bukankah itu keren?
“Dhani... ajarkan aku Matematika” ujarku dengan nada suara yang terdengar sangat putus asa “Kau sakit Kania? Emm... aku fikir kita sama-sama tahu jika kita memiliki kelemahan yang sama, bagaimana dengan Dodi atau mungikin Dirga, aku fikir mereka lebih baik dibidang Matematika dibandingkan aku, bahkan Dirga yang terbaik” ujar Dhani dengan diiringi senyum menggodanya saat dia menyebut nama Dirga didepanku, menyebalkan... hari ini sudah dua orang yang meyarankanku untuk belajar dengan Dirga, tapi... apa Dirga mau? Aku yakin dia pasti mau, bukankah selama ini apapun keinginanku selalu Dirga turuti? Walaupun aku harus mendapatkan ejekan darinya terlebih dahulu.

****
Sinar Cahaya keemasan ufuk timur mulai menyerbu kedalam kabut putih yang menyelimuti kota Bandung dengan hawa dingin yang sedikit menusuk namun tergantikan dengan kehangatan yang menembus kaca jendela kamarku, berusaha menaikkan temperature udara menjadi lebih hangat. Aku melangkah dengan gontai menuju kamar mandi milikku, bersiap secepat mungkin agar aku tidak terlambat hari ini. Aku berjalan menuju garasi mobilku, sambil bersiul layaknya seseorang yang sedang merasakan kemenangan dan begitu menikmati hidupnya, aku berencana untuk menyetir sendiri hari ini. “Kania!!” aku menolehkan kepalaku kesisi kanan dan menemukan ketiga sahabatku yang ternyata menjemputku mereka menggunakan mobil yang berbeda hari ini, tidak seperti biasanya yang hanya membawa mobil sedan yang memang cukup untuk kami berempat, aku melangkahkan kakiku kearah salah satu mobil yang aku pastikan tidak memiliki penumpang, sebuah mobil sport dengan lambang kuda jingkrak berwarna merah, yaitu mobil ferari milik Dirga, sedangkan Dhani dan Dodi menaiki mobil BMW 135i milik Dodi, benar-benar tipekal orang pamer, Dodi medapatkan mobil barunya minggu lalu hadiah dari ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Aku heran dengan hobi mereka bertiga yang sangat suka sekali memeras uang orang tua, mereka fikir mencari uang itu semudah mereka menarik nafas ckckck, untung saja mereka ini anak orang kaya, jika kalian berfikir aku ini berbeda dari mereka, kalian salah karena pada kenyataannya kami berempat dibesarkan dari kalangan keluarga yang sama, tapi bedanya aku lebih menghargai apa yang orang tuaku berikan karena aku sadar aku sangat beruntung. Selama perjalanan aku dan Dirga lebih memilih diam tanpa satu katapun yang keluar dari mulut kami, aku terhanyut dalam alunan musik favorite kami, lagu Everyday I Love You milik Boyzone, sedangkan laki-laki yang sedang mengemudikan mobilnya masih tetap fokus menatap jalan raya didepannya. “Emm... Dirga, boleh aku meminta bantuanmu?” tanyaku dengan mimik wajah sedikit ragu “Katakanlah, bukankah kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dariku?” jawabnya dengan tatapan yang masih fokus menatap jalan raya “Hehehe... Dirga ajarkan aku Matematika ya? Kau maukan, mengajarkan aku Matematika dan membantuku untuk mengerjakan tugas matematikaku?” ujarku sambil menangkupkan kedua tangan didepan wajahku, seperti posisi orang yang sedang memohon, oh... ayolah, aku rasa mood Dirga hari ini cukup baik, lihatlah buktinya sekarang bahkan dia tidak mengejekku ketika aku meminta bantuan darinya. “Datanglah ke perpustakaan seusai jam pulang sekolah nanti, aku akan mengajarimu matematika” ujarnya sambil tersenyum, ini adalah suatu keberuntungan untukku, kalian tidak akan percaya jika aku mengatakan bahwa Dirga jarang tersenyum bahkan dengan kekasihnya sekalipun, dia hanya akan tersenyum jika dihadapan kami bertiga, entahlah tapi aku suka dengan kenyataan itu.
Kami tiba disekolah tepat 5 menit sebelum bel masuk berbunyi, aku bisa melihat beberapa perempuan yang menatap iri padaku, tapi memang aku perduli? Maka jawabannya adalah TIDAK. Aku merasakan seseorang merangkul bahuku, tanpa menoleh siapa yang merangkulku, akupun sudah tahu jawabannya “Dodi!! Berhentilah berperilaku sesukamu, rangkulah pasangmu dan jangan merangkul perempuan sembarangan” ujarku dengan suara yang sedikit meninggi, tapi tidak berusaha melepaskan rangkulan Dodi, karena semakin aku berusaha melepaskannya, dia akan semakin berperilaku seenaknya. “Pasangan? Siapa Kania? Dan perempuan, maksudmu kau seorang perempuan?” ujarnya dengan pertannyaan yang bertubi-tubi dan terdengar ragu saat mengatakan aku adalah seorang perempuan “kau yakin kau seorang perempuan? Menurutku kau seorang perempuan yang... ah entahlah aku bahkan tidak tahu bagaimana mendeskripsikanmu. Mirip manusia pun tidak. Kamu lebih mirip iblis hahahaha... lebih tepatnya wanita iblis bukankah begitu Dhani? Kita memiliki dua setan peliharaan” ujarnya dengan tawa yang terdengar sangat sumbang, dan tidak lama kemudian sebuah jitakan telah mendarat dengan mulus dikepala Dodi, hahaha... aku tahu itu pasti ulah tangan Dirga. Tapi aku heran dengan ulah Dodi, dia membuat pertannyaan sendiri lalu menjawabnya sendiri, dasar laki-laki aneh... karena itu aku lebih senang berbicara dengan Dhani dari pada dengannya, tapi tidak bisa dipungkiri aku juga senang berteman dengannya. “Ayo Kania, Dodi berhentilah merangkulnya seperti itu” ujar Dirga sambil melepaskan rangkulan Dodi di pundakku, sedangkan Dodi hanya menaikkan bahunya sekilas sebagai respon, kami sudah sampai didepan kelasku dan kebiasaan mereka akan berlangsung lagi hari ini, mereka akan mengacak rambutku sebelum mereka pergi kekelas mereka masing-masing, menyebalkan aku harus menata ulang rambutku setelah ini, aku pernah bertannya pada mereka tetang kebiasaan mereka bertiga yang satu ini, dan dengan kompak mereka akan menjawab “Karena kau yang paling lucu” astaga jawaban apa itu? Ckckckc...
Seusai jam pelajaran aku benar-benar datang ke perpustakaan, aku sudah bertekad untuk bisa matematika, aku menunggu Dirga cukup lama, karena bosan aku mengetuk-etukkan pensilku ke meja hingga menimbulkan suara, sesekali aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku, tiba-tiba ponselku berdering menandakan ada pesan yang masuk ‘Kania kau dimana? Kau tahu kami tadi kerumahmu, dan ibumu bilang kau belum pulang, kami sekarang sedang dalam perjalanan untuk menemani Dirga, karena tiba-tiba Lucy ingin bertemu’  
Ini benar-benar keterlaluan, Dirga membuatku menunggu selama 2 jam di perpustakaan, sedangkan dia pergi bersama kekasihnya, dengan cekatan aku membalas pesan singkat dari Dodi.
 ‘Katakan pada Dirga, aku tidak akan memaafkannya karena dia telah membuatku menunggu selama 2 jam diperpustakaan’.
 Tidak lama kemudia ponselku berdering lebih nyaring, tanpa harus menjadi peramal pun aku tahu siapa orang yang menelphone ku, dia orang yang membuatku menunggu di perpustakaan selama 2 jam. Aku memutuskan untuk tidak mengangkat telphone darinya dan mencabut baterai handphoneku.
****
Laki-laki bernama Rian itu masih berada dialam bawah sadarnya saat suara ketukan pensil yang diketukkan kemeja secara pelan namun pasti membangunkannya. Bukan suara yang menarik untuk didengar bahkan lebih tepatnya menggangu dan suara itu membuat laki-laki itu benar-benar terbangun.
Laki-laki itu lebih memilih tidur diperpustaka setelah tadi malam terjaga karena bertanding game dengan salah satu rival terkuatnya disemua bidang. Dia mungkin siswa tingkat akhir sama seperti seorang gadis yang sedang menatap bingung laki-laki itu. Buku yang pria itu gunakan untuk menutup wajahnya terjatuh perlahan. Membuat mata yang dibingkai dengan bulu mata yang terlihat panjang dan lentik itu terbuka sedikit demi sedikit, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah wanita yang duduk tidak jauh darinya. Cantik, dan... wajah wanita itu terlihat lebih bersinar karena posisi duduknya yang tepat menghadap cahaya. Kulitnya putih, seperti susu. Dan bagian yang paling laki-laki itu suka. Dahinya, gadis itu menarik seluruh poninya kebelakang dan dijepit dengan jepitan hitam polos diatas kepalanya. Tipe ideal seorang Rian yang seluruhnya terdapat pada wanita itu.  Sebenarnya semua tipe ideal Rian sama seperti tipe ideal rivalnya yaitu Dirga dan Rian sangat tahu betul siapa gadis yang kini berada didalam jarak pandanganya, dia gadis yang membuat Dirga gila. Ckckck
 “Kalau saja kalkulus tidak pernah ada…” kata gadis itu mulai melantur, karena putus asa dengan nilai-nilai matematikanya yang mengenaskan.
“Aku bertaruh Leibniz akan menuntutmu kalau itu benar-benar terjadi.”gadis  itu menatap laki-laki yang duduk tidak terlalu jauh darinya terkejut. Pria itu masih berada diposisi awalnya, hanya saja buku yang menutup wajahnya tadi sudah tidak lagi berada ditempat semula.
Leibniz yang Rian maksud adalah laki-laki yang mengembangkan semua teori dan konsep dasar kalkulus dan dianggap sebagai penemu ilmu yang menurut Kania sangat mengerikan itu, sebenarnya Kania tidak akan beranggapan seperti itu kalau saja nilai matematikanya tidak semengenaskan itu.
Rian tentu bukan orang bodoh karena tahu hal tidak biasa seperti itu. Walaupun Kania sebenarnya tidak mengerti sama sekali dan tidak tahu siapa nama orang yang disebut laki-laki itu.
Hanya ada satu pikiran melintas saat mata gadis itu menangkap wajah Rian. ‘Berapa tahun yang aku sia-sia tanpa mengenal pria ini, atau aku yang terlalu banyak bergabung dengan tiga pangeran setan hingga aku tidak mengetahui ada malaikat disekitarku’
Gadis itu sering melihat pria tampan dan biasanya berakhir dengan tidak peduli lalu lupa dan tidak ingin untuk berusaha mengingatnya lagi tapi tentu saja pengecualian untuk ketiga pangeran setannya. Tapi sepertinya kesan itu juga tidak akan berlaku untuk pria didepannya ini.
Pria itu seperti… mannequin. Patung yang dipahat dengan baik dan ditempatkan di swalayan-swalayan terkenal untuk memperagakan baju bermerek. Kulitnya putih, dia memiliki mata bulat yang jernih terlihat sangat imut. Pertama kalinya dia melihat seseorang dengan wajah seperti itu. Sangat tampan sekaligus imut.
Rian menegakkan tubuhnya, masih memperhatikan gadis yang duduk disebrang meja yang ia duduki. Dia menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan menyuruh gadis itu menghampirinya. Sedangkan gadis itu masih diam dan berpikir keputusan mana yang lebih tepat. Kabur dari sini atau mengikuti perkataan pria asing itu. Tentu saja kabur, 99% kemungkinannya adalah pria itu memanggil untuk menjitak kepalanya karena sudah mengganggu tidurnya.
Gadis itu bangun dari duduknya, merapikan buku tergesa-gesa dan baru saja akan kabur saat suara laki-laki itu menghentikannya.
“Bawa kemari tugasmu dan apa kau mau jika aku mengajarkanmu kalkulus?” gadis itu membalikkan tubuhnya takut, melihat wajah laki-laki itu tidak yakin. Kalau kabur dia pasti akan ditangkap dengan mudah. Kemampuan fisiknya sangat payah. Lagipula pria itu memintanya untuk membawa tugasnya. Anggap saja dia orang baik yang mau menyelesaikan soal kalkulusnya.
          “Kau bercanda? Tentu aku mau, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini” ujar kania dengan suara yang terdengar sangat bersemangat. Bagaimana tidak? Ini adalah sebuah keberuntungan karena setidaknya ia bisa belajar materi matematika meskipun bukan dengan Dirga.
Kania berjalan menghampiri pria itu dan menaruh buku ditangannya dihadapan laki-laki itu, lalu duduk tepat dihadapan laki-laki yang baru saja menawarkan akan mengajarkannya materi kalkulus yang begitu memusingkan. Duduk manis disana tanpa mengatakan apapun.  Laki-laki itu meliriknya sekilas, kemudian mengambil kertas soal yang diselipkan disalah satu buku gadis itu. Membaca seluruh soal lalu mulai mencari jawaban soal-soal itu. Kania menatap laki-laki yang sedang mengerjakan tugasnya itu terkagum-kagum, berpikir darimana seseorang sepertinya bisa muncul. Selain tampan dia juga pintar sepertinya, ternyata masih ada laki-laki yang setara dengan Dirga.
Laki-laki itu menyelesaikan seluruh soal itu dalam waktu 10 menit, dia meletakkan penanya di atas meja lalu berjalan kearah rak buku yang berisi deretan buku-buku matematika, tanpa berfikir panjang dan seolah-olah laki-laki itu memang telah mengetahui semua isi buku itu dia menarik salah satu buku dengan sampul orange dan memberikannya pada Kania, melihat Kania dengan jarak yang jauh lebih dekat.  
Tugasmu sudah selesai dan aku fikir buku ini sangat cocok untuk mu” ujarnya pelan lalu kembali menegakkan tubuhnya, setelah menyerahkan buku bersampul orange itu pada Kania laki-laki itu merogoh isi tasnya dan meyerahkan sebuah buku dengan motif kotak-kotak. Mungkin bisa dikatakan bahwa itu adalah buku catatannya.
“Te... terima kasih, kau yakin akan meminjamkan buku catatanmu padaku?” kata Kania gugup. Bukankah seharusnya pertemuan pertama seseorang itu jangan terlalu menyusahkan orang lain? Lalu apa yang dilakukan gadis itu sekerang, dia bahkan telah terlalu banyak merepotkan laki-laki dihadapannya ini.
“Aku bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa imbalan, jika kau mau tahu, dan ya... aku yakin akan meminjamkan catatan milikku padamu karena aku yakin kau akan lebih mengerti jika menggunakan itu” Ujar laki-laki itu sambil menyeringai, dan Kania tahu benar ciri-ciri ini, karena terkadang Dirga, Dhani, bahkan Dodi sering melakukannya. Kania mengangkat kepalanya melihat wajah pria itu yang terlihat sangat mempesona dengan senyumannya itu.
“ Besok pulanglah bersamaku saat jam pelajaran berakhir, dan beri tahu siapa namamu” ujar laki-laki itu dengan diiringi sebuah senyuman.
“Ak... aku... aku Kania, tapi maaf aku tidak di izinkan untuk pergi dengan siapapun kecuali bersama ketiga sahabatku” ujar gadis itu dengan sedikit tergagap dan berusaha menunjukkan wajah penuh penyesalan terbaik miliknya.
“ oh... baiklah, sebenarnya aku kecewa jadi maukah kau membayarnya besok, dengan pergi makan siang bersamaku mungkin?” kata laki-laki itu membuat sebuah penawaran, Kania menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, laki-laki itu pun beranjak dari tenpat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.
“ jika kau ingin tahu, namuku Rian” ujar laki-laki itu dengan hanya menolehkan kepalanya dan menghilang dibalik pintu perpustakaan yang sudah tertutup.

****
Alih-alih bersemangat untuk berangkat menimba ilmu demi kebaikanku di masa depan. Aku justru bersikeras untuk tidak masuk kesekolah dengan dalih bahwa aku sakit tapi sepertinya ibuku terlalu pintar membaca raut wajahku atau mungkin karena aku yang tidak memiliki bakat acting sedikitpun  hingga membuat ibuku tidak percaya dan mulai memeriksa kondisi tubuhku.
“Badanmu tidak panas, wajahmu bahkan terlihat fresh dan tidak pucat sama sekali. Jangan mencoba untuk berbohong Kania, kau lupa kalau mama mu ini seorang Dokter?”ujar ibuku sambil memeriksa keadaanku dan menempelkan tangannya ke keningku lalu tersenyum, senyum yang bisa membuatku takut, kenapa mama harus tersenyum seperti itu? Senyumnya benar-benar terlihat familiar, oh... tentu saja itu jenis senyum yang sama yang selalu ditunjukkan Dhani ketika dia memiliki ide jail untuk menyiksaku. “Ma berhentilah tersenyum seperti itu, kau membuatku takut. Apa kau sedang merencanakan sesuatu, hingga tersenyum seperti itu?” pertannyaan retoris itu tiba-tiba muncul di benakku “Bukankah kau tidak enak badan? Baiklah mama akan mengijinkanmu izin untuk hari ini, dan sepulang sekolah nanti mama akan menghubungi Dirga agar mengajarkan semua mata pelajaran yang  ada hari ini” ujar ibuku dengan tawanya yang membahana, astaga... ibuku benar-benar fans nomor satu seorang Dirga, kenapa dia lebih menyayangi Dirga dibandingkan aku, benar-benar menyebalkan. Aku menyerah, dan memilih untuk pergi ke sekolah hari ini, bukankah jika aku izin hari ini ibuku akah mengundang Dirga kerumah? Jadi apa bedanya sekolah ataupun tidak aku akan tetap bertemu dengannya. Benar-benar sebuah kutukan.
Aku sampai di sekolah tepat 10 menit sebelum bel masuk berbunyi, aku menggunakan mobilku hari ini, sengaja agar tidak berangkat bersama ketiga sahabatku, aku sedang menghindari Dirga, aku kesal karena dia membuatku menunggu selama 2 jam diperpustakaan karena dia berjanji untuk membantu tugas Matematika milikku yang kemarin sudah dikerjakan oleh Rian, tapi ternyata dia lebih memilih menemani Lucy berbelanja dibandingkan mengajarkan sahabatnya matematika, benar-benar keterlaluan.
“Kania!!” tanpa menoleh pun aku tahu siapa yang berteriak-teriak seperti orang hutan itu, pasti Dhani dan pasangannya Dodi “Kania, kau tahu tadi kami kerumahmu, dan ibumu bilang kau menyetir sendiri hari ini, jadi kami memutuskan pulang sekolah nanti Dirga akan menyetir mobilmu, dan kau akan pulang bersamanya sedangkan kami__” aku memotong ucapan Dhani dengan nafas yang memburu “Berhentilah berbicara!! Dan aku akan menyetir mobilku sendiri, tanpa Dirga, kau ataupun Dodi. Kalian menyebalkan!” ujarku sambil berteriak dan segera berlalu melewati mereka menuju kelasku. tanpa terasa tetesan bening itu meluncur dari sudut mataku, jadi ini yang namanya cemburu, rasa marah ketika kau melihat ataupun mendengar bahwa orang yang kau sukai lebih memilih orang lain. Ternyata sangat menyakitkan, aku tidak pernah berfikir rasanya akan semenyakitkan ini.
****
          Dua pria yang baru saja dibentak Kania hanya terbengong-bengong melihat kelakuan Kania yang tidak seperti biasanya, meskipun kania semarah apapun pada mereka bertiga dia tidak akan mendiamkan sahabat-sahabatnya tapi kali ini gadis itu melakukannya.
          “Katakan pada Dirga, dia harus bertanggung jawab, dan dapatkan maaf Kania” ujar Dhani yang memerintah sahabatnya “Kenapa harus aku? Bukankah kau bisa melakukannya sendiri” tak dihiraukan aksi protes dari pasangannya Dhani berlalu dari hadapan Dodi dan berjalan menuju kelasnya “Bukankah kau yang sekelas dengannya Dodi” ya itulah kata-kata yang Dhani ucapkan ketika ia melewati Dodi tadi.
          Aneh, ya satu kata itulah yang dapat menggambarkan suasana meja yang diduduki ketiga sahabat itu saat ini, aneh karena satu-satunya perempuan yang selalu bersama mereka saat makan siang kini tengah duduk berdua dengan Rian laki-laki yang jelas-jelas rival dari sahabatnya, Dirga menatap  mereka dengan tatapan yang begitu menyiratkan ketidaksukaan tangannya mulai mengepal, wajahnya mulai memerah hingga ketelinga, matanya berkilat marah melihat gadis yang ia sukai begitu dekat dengan orang yang baru saja dikenalnya, memang sejak kapan Kania mudah dekat dengan orang lain?
          “Aku akan kerumah Kania nanti, kalian ikut?” ujar Dirga tiba-tiba dengan tatapan yang masih tertuju pada bangku yang hanya berkelang 2 meja dari tempat duduknya saat ini, sedangkan kedua orang yang ditanya dengan kompak hanya menggelengkan kepala mereka sebagai respon, entahlah apa maksud dari gelengan kepala itu, gelengan kepala karena merasa geli melihat tingkah Dirga atau gelengan kepala sebagai tanda mereka tidak ikut berkujung kerumah Kania, tapi sepertinya itu gelengan kepala untuk kedua alasan itu.
          Ketiganya melanjutkan makan siang tanpa suara karena pada dasarnya mereka bertiga tengah memikirkan satu-satunya perempuan yang sedari kecil selalu bergabung bersama mereka dan sekarang tengah duduk bersama laki-laki lain. Mereka bertiga benar-benar mirip seperti laki-laki patah hati hanya karena tidak makan siang bersama Kania? Yang benar saja.
To: My K
Aku mohon maafkan aku Kania…
From: My K
Jangan ganggu aku, aku ingin mengobrol dengan Rian!!!
To: My K
Aku mohon, menolehlah…
From: My K
Kekanak-kanakan…
          Setelah berkirim pesan dengan Kania di kantin tadi dan mendapatkan respon yang tidak diinginkan, bahkan sekarang Dirga tidak focus dengan pelajaran yang diajarkan pak Hendra.
“Hei… apakah disini tengah terjadi sebuh kesalahan? Bagaimana mungkin seorang Dirga melamun?” ujar Rian sengan suara jahil sambil menyenggol bahu teman sebangkunya itu.
“Kau menyebalkan, kenapa kau menyeret Kania untuk makan siang denganmu? Bukankah biasanya kau bersama dengan anggota klub sepak bolamu itu?”
“Hoho… tolong kau perbaiki kosa katamu, aku tidak menyeret Kania, dan aku fikir aku tertarik dengannya”
“Menyebalkan”
          Perdebatan yang tidak penting itupun berakhir dengan kekesalan Dirga dan bunyi bel pulang yang terdengar nyaring hingga membuat seisi kelas riuh karena menyambut dengan suka cita berakhirnya jam sekolah hari ini. Dirga berjalan dengan terburu-buru menuju keparkiran dan menemukan sosok yang ia cari yaitu Kania.
“Kania... kau mau memaafkanku bukan?” ujar seorang laki-laki sambil mengikuti kemanapun Kania pergi  bahkan kali ini Dirga menarik-narik bagian belakang ujung seragam sekolah yang dikenakan Kania layaknya seorang anak kecil yang takut tersesat ditengah kerumunan orang-orang.
          Gadis itu menoleh secara tiba-tiba dengan wajah yang terlihat mengerikan “Kau harus membayar waktu 2 jam ku yang terbuang karena menunggumu Dirga” ujar gadis itu dengan nada dinginnya “Baiklah-baiklah aku akan membayarnya, es krim? Taman hiburan? Bermain hujan? Mana yang kau pilih?” ujar laki-laki itu dengan ringannya dan itu semakin membuat gadis yang ditanya semakin meradang karena kesal melihat ulah sahabatnya yang selalu mempermainkannya.
“Dasar pangaran kegelapan bodoh yang penuh jerawat! Jelek! Sok tampan! Sok keren!” ujar gadis itu sambil berlalu meninggalkan Dirga yang masih mematung didekat mobil milik Kania, dan masih berusaha mencerna semua kata-kata makian dari sahabatnya.
“Apa benar aku berjerawat? Seingatku kulitku paling mulus” ujar laki-laki itu sambil meraba bagian pipinya, dan setelah ia sadar semua yang dikatakan oleh sahabatnya itu ada yang berupa kebongan ia langsung tersadar dan mulai mengejar Kania.
“apa? ulangi sekali lagi!” Dirga melototkan matanya tapi itu sama sekali tidak membuat Kania takut justru dengan santainya gadis itu duduk dibalik kemudinya. Dan meninggalkan Dirga begitu saja diparkiran.

*****

Jam telah menunjukkan pukul 3 siang dan seharusnya saat ini Kania tengah berkutat dengan alat music tapi apa yang dia lakukan sekarang? Duduk di depan televisi dan jangan lupakan seorang laki-laki yang terus saja mengekorinya kemanapun. Kania menonton acara favoritnya tanpa merasa perlu untuk menanggapi seseorang yang kini tepat berada didepannya dan mengganggu kegiatan menontonnya, benar-benar telihat seperti seorang anak kecil yang mencari perhatian terhadap ibunya. Ckckck...
“Pulanglah, kau seharusnya pulang Dirga, aku sudah mengusirmu” Kania bangkit dari duduknya menuju dapur. Dirga hanya menatap kepergian Kania dengan tatapan yang sulit di artikan dan sesaat kemudia menghembukan nafasnya dengan sedikit kasar. Dia tidak  memperdulikan kemarahan dan kata-kata Kania yang mengusirnya tadi justru sekarang laki-laki itu sedang asyik bermain dengan PSP kesayangannya disofa yang tadi sempat diduduki Kania. Benar-benar tipe laki-laki menyebalkan bukan?
“Astaga, kau masih disini? Sebenarnya apa yang ingin kau ketahui? Sebenarnya kau tahu bukan, aku sudah tidak marah lagi? Jadi apa yang ingin kau ketahui?” ujar Kania dengan memberikan begitu banyak pertannyaan sedangkan yang diberi pertannyaan hanya melihat sekilas lawan bicaranya tersebut.
“Membosankan, kita hanya akan bermusuhan untuk beberapa jam saja? Tadinya aku fikir mungkin aku harus membelikanmu satu truk es krim terlebih dahulu untuk mengemis  kata maaf darimu” ujar laki-laki itu dengan ekspresi antara terkejut dan sedih yang kentara sekali dibuat-buat “Siapa yang membantu tugas matematikamu, kenapa kau bisa mendapatkan nilai sempurna?” ujar laki-laki itu dengan tatapan mengintrogasi, tatapan yang menunjukkan ketidaksukaan karena gadis yang ia sukai mendapatkan bantuan dari orang lain dan bukan darinya.
“Hanya itu yang ingin kau tanyakan?” ujar gadis itu sambil menatap lawan bicaranya “Ya, hanya itu” ujar laki-laki itu dengan tatapan yang terlihat sangat mengintimidasi “Rian yang membantuku mengerjakan tugas matematika, kau tahu wajahnya terlihat sangat imut, dan saat itu juga aku baru sadar ternyata aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersama kalian” ujar gadis itu diiringi dengan sebuah senyuman manis. Dirga benar-benar kehilangan mood untuk melanjutkan pembicaraan oleh karena itu dia lebih memilih diam dan hanya menanggapi ocehan gadis itu dengan deheman.
          “Oh... aku lupa aku harus ke taman Dhani pasti sudah menungguku, kau mau ikut?” ujar gadis itu lagi sedangkan lawan bicaranya hanya menggelengkan kepalanya sebagai respon dengan tatapan yang masih fokus dengan game yang dimainkannya.
“Aku pergi Dirga, kau harus menjaga rumahku dan tenang saja aku tidak akan lama” ujar gadis itu sambil berlari menuju pintu keluar rumahnya dan hanya direspon dengan deheman oleh laki-laki yang kini tengah berbaring dengan nyaman diatas sofa sambil memainkan game yang berada di PSP miliknya.
****
“Konon… sebuah legenda mengatakan ada sebuah kisah cinta. Kisah cinta seorang gadis, Mary dan seorang pria gagah bernama James. Mary jatuh cinta hanya karena mendengar suara alunan musik yang dimainkan oleh si Pria. Mereka jatuh cinta dalam diam dan tak tahu asalnya. Mereka tak mengenal. Mereka hanya mengenal alunan musik dan tak pernah bertemu. Tetapi mereka jatuh cinta. Jatuh cinta karena Tuhan memberi mereka takdir demikian”  aku menutup novel yang aku baca dan menoleh kesisi kananku, sebenarnya kami tidak memiliki sesuatu yang ingin dikatakan. Hanya saja ini adalah sebuah rutinitas yang selalu aku dan Dhani lakukan setiap sore yaitu menunggu matahari terbenam.
. “Aku ingin Tuhan mengirimkan alunan musik yang hanya dapat didengar olehku dan membuatku jatuh cinta tanpa alasan… bukankah Tuhan baik?” bisikku sambil menatap langit.
“seperti Mary and James… aku ingin seperti itu, bagaimana menurutmu Dhani? Bukankah itu sangat keren?” ujarku sambil menatap Dhani yang duduk tepat disamping kananku. Berharap agar suatu saat nanti aku dapat menemukan James milikku.
          “keluarlah dari dunia fantasimu Kania, kau bahkan telah mendapatkan tiga pangeran tampan disisimu yaitu, aku, Dodi, dan Dirga. Oh... maksudku kau bahkan sudah mendapatkan Jamesmu, tanpa kau sadari Kania” Ujar Dhani dengan percaya dirinya sambil tersenyum, oh... baiklah mereka memang pangeran tampan, tapi aku tidak akan pernah mau untuk mengakuinya didepan mereka langsung, karena aku yakin mereka akan membuat topik itu sebagai bahan ejekan mereka untukku. Tapi benarkah aku sudah mendapatkan james milikku? Siapa James milikku yang Dhani maksud? Apakah kami saling mengenal?
“ Hai... apa yang kalian bicarakan? Kalian tahu kalian terlihat sangat mesra” ujar Dodi sambil menepuk pundakku dan Dhani secara bersamaan “Kami hanya membahas tentang kisah cinta Mary dan James, lalu Kania mengukir sebuah harapan dibangku kayu yang sedang kita duduki ini, lihatlah Dodi” ujar Dhani sambil menunjukkan kata-kata yang diukir olehku. aku ingin Tuhan mengirimkan alunan musik yang hanya dapat didengar olehku dan membuatku jatuh cinta tanpa alasan… bukankah Tuhan baik? Kania, 17 tahun’
Hahaha... Kania keluarlah dari dunia fantasimu dan nyatakan perasaanmu pada Dirga, lalu semua masalah akan selesai” ujarnya dengan tertawa terbahak-bahak sedangkan Dhani hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai respon. “Aku tidak mau!! Lagi pula Dirga sudah memiliki kekasih” ujarku sambil sedikit meninggikan intonasi suaraku dan melemah di akhir kalimatku. “Bagaimana jika kita membuat taruhan” ujar Dhani tiba-tiba “Taruhan?” ujarku dan Dodi secara bersamaan “Ya, taruhan... dengan koin ini bagaimana? Jika kepala, Kania harus menyatakan perasaannya pada Dirga dan jika ekor, kita berdua akan memebelikanmu es krim satu truk” ujar Dhani membuat sebuah penawaran, sebenarnya aku ingin sekali menolak, tapi harga diriku akan jatuh jika aku tidak menyanggupi tawaran dari Dhani. “Ok, aku setuju!!” ujar Dodi dengan nada yang terdengar sangat bersemangat.
“Apa-apaan itu, bagaimana mungkin hanya dengan koin resiko yang harus aku tanggung begitu berat” ujarku berusaha menolak taruhan konyol yang dibuat oleh Dhani. “Lalu bagaimana dengan kami berdua, kami harus membelikanmu es krim satu truk jika kami kalah, itu adil” ujar Dodi mulai membela pasangannya “Adil dari mana? Setidaknya kalian memiliki uang yang banyak untuk membelikanku es krim satu truk. Sedangkan aku, aku harus mendapatkan stok harga diri dari mana lagi?” ujarku masih masih berusaha mempertahankan pendapatku. “Aku tidak mau tahu, 2 lawan 1, kami yang menang. Dhani ayo lempar koin milikmu itu” ujar Dodi memberikan perintah dan ketika koin itu dibuka, oh... betapa sialnya aku, sepertinya aku benar-benar harus mencari stok untuk harga diriku.
******
Hari ini adalah hari yang ditentukan oleh Dhani dan Dodi, hari dimana aku harus menyatakan perasaanku pada Dirga, astaga... ini benar-benar peristiwa paling memalukan sepanjang hidupku, aku menyusuri koridor taman belakang yang merupakan salah satu akses menuju perpustakaan dengan cepat, dari posisiku saat ini aku bisa melihat sosok laki-laki tengah duduk dibawah pohon rindang didekat perpustakaan, sepertinya laki-laki itu begitu terhanyut dengan bahan bacaannya, dengan perlahan akupun menghampirinya dan berdiri tepat dihadapannya.
“Dirga, kau mau mendengar suaraku tidak?” ujarku setelah berdiri tepat dihadapannya, dia mendongakkan kepalanya untuk menatapku karena memang posisiku yang sekarang berdiri sedangkan Dirga duduk. “Boleh... tapi pastikan suaramu harus bagus” ujarnya sambil menutup bukunya dan tatapannya mulai fokus melihatku.
“Lagu ini khusus untukmu, kau harus mendengarnya? Aku jamin suaraku pasti bagus” ujarku membanggakan diri sendiri dan mulai bernyanyi didepannya

I wish your love
Nal barabwa
(Look at me)
I wish your love
Do dagawa
(Come to me more)

Hansang neul bogopa tto senggangna gaseum ttollyowa
( I always miss you and think of you, my heart trembles )

I wish your love
Non nekkoya
(You are mine)
I wish your love
Da julgoya
(I’ll give you everything)

Noreul jinja, jinja joahe yeppo michigesso
( I really really like you you’re so pretty I can go crazy)

 Memalukan ini semua terjadi karena aku kalah taruhan dan harus menyatakan perasaanku menggunakan lagu, apa mereka tidak sadar ini benar-benar menginjak-injak harga diriku, mereka benar-benar sahabat yang menyebalkan.
“Kau benar suaramu bagus, tapi apa kau sedang berusaha menyatakan perasaanmu padaku?”  tanyanya dengan senyum jahilnya “ak... aku...aku tidak bermaksud begitu, kau terlalu percaya diri!“ sergahku dengan suara yang sedikit meninggi, dia masih tersenyum atau mungkin lebih tepat dikatakan dia sedang menahan tawanya, ingatkan aku untuk menghajar Dodi dan Dhani setelah ini karena mereka telah memberikan tantangan paling memalukan seumur hidupku, benar-benar pasangan yang menjijikkan. “Oh benarkah? Aku sangat kecewa mendengarnya” ujarnya, apa maksudnya? Kenapa dia harus kecewa? Apa karena suaraku yang terlalu indah? Atau karena aku menyatakan perasaanku dengan lagu yang tidak dia ketahui? Atau karena sesuatu yang lain, aku menatapnya dengan wajah yang menunjukkan bahwa aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud kata-katanya. Dia menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya secara berlahan dan menunjukkan senyumannya lagi, oh tuhan... kenapa dia begitu tampan ketika tersenyum seperti itu?
“Baiklah ayo kita pacaran, kau tidak akan pernah percaya jika aku sebenarnya mengerti dengan lagu yang baru saja kau nyanyikan untukku” ujarnya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas dan mulai mengeluarkan tawa sumbangnya, aku heran ketika dia bernyanyi dia akan mengeluarkan suara bass-nya yang sangat memikat tapi kenapa jika tertawa suaranya begitu sumbang dan lihatlah wajahnya yang nyaris seperti pangeran, tapi aku lebih suka mengatakannya pangeran kegelapan.
“Bagaimana kau bisa mengerti arti dari lagu yang baru saja aku nyanyikan?” ujarku sedikit ketus dan dengan ekspresi wajah yang menunjukkan ketidaksukaanku
“Itu karena aku tahu semua tentangmu Kania, apapun itu... aku akan berusaha mencari tahu asalkan semua itu berhubungan denganmu” ujarnya sambil tersenyum, astaga bisakah dia berhenti membuat debaran jantungku berdetak diatas normal seperti ini? Ini membuatku takut.
“Kau ingin mendengar ceritaku?” tanyanya tiba-tiba dan aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai respon, kami masih berjalan beriringan dengan dia yang masih menggenggam tanganku dan mengarahkanku untuk duduk tepat disampingnya di bangku taman belakang sekolah.
“Kau tidak akan percaya jika aku mengatakan, aku memiliki cinta pertama” ujarnya mulai bercerita, aku senang dia terbuka padaku meskipun kami baru menjalin hubungan beberapa menit yang lalu “Kenapa tidak? Bukankah kau sering menceritakannya pada kami” ujarku dengan nada yang aku paksakan biasa-biasa saja, dan tatapan yang tidak fokus karena mulai jengah dengan topik yang Dirga angkat.
“Kau tahu dia gadis yang cantik” ujarnya padaku, oh... ayolah apakah dia harus mengatakannya didepanku
“Bahkan sangat cantik, dia suka tersenyum, dia juga suka sekali dengan warna hitam aneh bukan?” lanjutnya lagi, ini benar-benar membuatku jengah
“Lalu kenapa jika dia suka dengan warna hitam? Tidak aneh, aku juga suka dengan warna hitam” ujarku dengan nada yang mulai jengkel
“Kania, dia juga suka hujan, bahkan dia selalu bermain hujan seperti anak kecil lalu dia akan tertawa ketika tetesan hujan itu mengenai wajahnya, dan gadis itu selalu menarik seluruh poninya kebelakang dan dijepit dengan jepitan hitam polos diatas kepalanya” ujar Dirga lagi sambil menerawang, seolah-olah dia sangat mengagumi orang yang sedang dia ceritakan
“Lalu kenapa kau tidak pergi dengannya saja? Menyebalkan!! sana kejar dia!!” ujarku dengan berteriak lalu segera beranjak dari tempat dudukku dengan langkah yang sedikit berlari
“Tunggu Kania, sebenarnya aku sedang berusaha mengejarnya sekarang, tapi dengan bodohnya gadis itu kalah taruhan dan dia yang akhirnya mengejarku, tapi aku senang dengan kenyataan itu” ujarnya dengan tangan yang masih mencekal lenganku.
 “Kau tahu Kania, kukira melihatmu tersenyum adalah salah satu alasan paling menakjubkan yang pernah kukatakan, jika kau ibarat lukisan, maka mungkin kau adalah lukisan paling indah yang membuatku bahkan tak bisa mengatakan  ‘aku bosan melihatnya’ “ ujar Dirga sambil mengacak rambutku, benarkah? Apa ini benar-benar Dirga? Bahkan setahuku Dirga selalu membawa aku, Dodi, dan Dhani jika dia ingin kencan, dan dia lebih banyak diam bahkan tidak pernah romantis seperti ini.
“Apa kau baru saja belajar kata-kata romantis dari Dodi?” tanyaku padanya, dia hanya terkekeh mendengar pertannyaan dariku
“Bodoh, mana mungkin... aku tidak sekaku itu, lagi pula kau gadis yang aku suka, mana mungkin aku akan memperlakukanmu sama dengan gadis-gadis yang mengejar-ejar ku itu” jawabnya sambil tersenyum dan menggandeng tanganku, aku terus memandangi tangan kami yang saling bertautan dan membalas senyumnya
“Ayo kita pulang” ujarnya lagi, aku hanya mengaggukkan kepalaku sebagai respon.
Aku selalu mencari alasan kenapa aku mencintaimu. Tapi, aku tidak pernah mendapatkan alasan yang jelas. Apa karena wajahmu yang sangat tampan, atau karena suaramu yang sangat indah dan menenangkan? Mungkin juga karena kau orang kaya raya. Tapi, kalau aku mencintaimu karena hal seperti itu, maka suatu saat nanti jika aku bertemu dengan orang yang lebih baik darimu aku akan berhenti mencintaimu dan berpaling pada orang lain. Aku tidak mau hal seperti itu terjadi.
Karena jantungku selalu berdetak cepat saat melihatmu, hatiku sakit melihat kesedihanmu, aku merindukanmu walaupun kau disisiku. Apa itu bisa dijadikan suatu alasan? Karena untuk mencintaimu tidak perlu alasan yang logis bukan?

End

Gimana cerpen abal-abal aku ini? Buat yang udah baca makasih banyak.. Peluk cium untuk kalian dan untuk yang komen (haha gayanya kayak bakalan ada yang komen aja) makasih banget ya buat dukungannya. Aku perlu komentar masukan dan kritikan kalian. Jadi buat kalian yang baca cerita aku ini, aku mohon banget buat komentarnya karna aku juga masih belajar dan perlu masukan dari temen-temen sekalian. Ciaoooo~ deep bow buat semua ^^

Saturday, November 22, 2014

Cerpen "Dalam Deburan Ombak"



Cinta adalah sebuah kata sederhana dengan beribu makna. Sebuah kata yang bisa menyatukan setiap insan didunia, kata yang didasari dengan sebuah perasaan sayang yang mendalam yang hanya dianugerahkan pada hati paling tulus dan termurni tanpa ada setitik kepalsuan apapun didalamnya. Pantai Panjang telah menjadi saksi bisu cintaku. Dimana aku mencurahkan seluruh perasaanku.
Aku terduduk diam ditengah hamparan pasir lembut sembari menikmati indahnya mentari senja yang menghasilkan bias warna oranye khas di ujung pantai. Keindahan itupun semakin terasa dengan adanya deretan pohon cemara yang membuat pantai ini terasa sejuk. Disini, aku masih terdiam dan terus menghitung waktu ditengah alunan debur ombak  yang saling berkejaran, akupun makin tenggelam dalam lamunanku.
Pantai ini mengingatkanku kembali akan sebuah kenangan manis yang sempat terlupa. Dimana aku pertama kali melihatnya lagi setelah sekian lama aku tak pernah melihat sosoknya. Sosok tinggi dan ramping yang tidak atletis itu adalah sosok yang selalu kunantikan walau dia bukan seseorang yang berpenampilan sempurna. Akupun tersadar dari lamunanku saat kudengar suara itu, ternyata hari sudah beranjak malam dan setengah badanku telah basah terkena ombak. Aku menolehkan kepalaku untuk memastikan pemilik suara itu. Belum sempat aku mengenalinya diapun memanggilku lagi “ngapain sih kamu disitu? udah jam berapa ini?” ucapnya sambil mendekatiku.
“Eh kakak, darimana? Udah lama ya kita nggak ketemu?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya. Aku bangkit dari dudukku dan sedikit membersihkan bekas pasir yang menempel di kakiku. “Ya ampun! Dari jam berapa kamu duduk disini? Kenapa bisa basah gitu?” dia terus bertanya sambil melotot melihat celanaku yang sudah basah kuyup. “Biasa aja donk kak, kalo orang main dipantaikan biasanya basah kuyup juga” aku menyeringai dibuat-buat sambil memutar mataku. “Iya sih basah, tapi mana ada yang main di pantai malam-malam gini. Nih pakai jaket kakak aja, nanti kamu sakit loh basah-basah gitu.” Rasa khawatir diwajahnya mulai menghilang saat dia berkata “nggak takut apa duduk sendiri di tengah pantai? Hanya cewek aneh yang mau-maunya duduk sendiri ditengah pantai, tengah malam lagi. Dasar cewek aneh” dia mencibir dan melihatku dengan heran. Itulah dia sosok yang sangat menjengkelkan tapi tetap perhatian.
Tanpa sadar aku menatap dan memperhatikannya, tiba-tiba dia menyentuh keningku "hei, kenapa? Ada yang aneh ya? Apa kamu sakit? Tapi kok nggak panas sih?" aku memalingkan wajahku dan menepis tangannya yang ada di dahiku hingga terjatuh. "huh dasar cewek aneh" dia mengomel dan menekuk wajahnya.
"Eh iya, ngapain kakak kesini? Janjian ya?" selidikku curiga. "Kakak nyariin kamu tau. Mulai dari rumah kamu, anggut, prapto, pasar minggu, pokoknya satu kota Bengkulu udah kakak kelilingin, eh kamunya malah ada disini" dia terus mengomel dengan nada kesal. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya itu, dia terus mengomel sambil menendang-nendang pasir pantai dan benda-benda yang ada di dekatnya. Sadar bahwa aku tak memperhatikan omelannya, diapun memukul pelan kepalaku "kamu itu bikin kesel banget ya, dari tadi aku ngomong panjang lebar tapi nggak kamu perhatiin. Kamu nggak tau apa, kalau aku capek ngelilingin satu kota Bengkulu cuma buat nyariin kamu." dengan sedikit kesal akupun menjawab "emang kenapa kakak nyariin aku? Tumben banget, nggak biasanya gitu."
“Nggak kok, cuma kangen aja pengen lihat cewek aneh yang pernah aku kenal ini nih” ucapnya menunjukku, dia tersenyum simpul dan berjalan menuju mobil Lamborghini berwarna hitam kumbangnya yang terparkir sembarangan di pinggir jalan. “Eh, ayo pulang cewek aneh. Ngapain kamu masih melamun disana? Ayo, kakak antar kamu pulang” teriaknya dari kejauhan. Akupun berjalan mendekatinya sambil berkata “siapa juga yang melamun, aku Cuma bersihin pasir yang nempel dicelanaku aja kok. Eh iya, emang kakak mau nganterin aku ya? Basah-basah gini? Apa nggak takut ikutan basah ya jok mobilnya?”. Diapun masuk ke dalam mobilnya dan berteriak “mau diantar apa nggak? Kalo terus mengomel gitu kakak biarin kamu kedinginan disini”. “iya iya, aku mau dasar cowok bawel” aku terus mengomel sambil berjalan menuju mobilnya.
Kami duduk terdiam selama perjalanan menuju rumah. Kumainkan jemariku sambil melihat Hpku yang terendam air pantai tadi. Tanpa terasa kamipun sampai didepan rumahku. Aku bergegas keluar dari mobil dan melambaikan tanganku padanya “kak Dani makasih ya udah nganterin aku, hati-hati dijalan”.

***

Salah satu hal terbaik tinggal di kota Bengkulu adalah dapat menikmati indahnya gulungan ombak dan sunset yang sangat memanjakan mata. Hari iniaku berencana pergi ke benteng Malborough yang merupakan salah satu tempat wisata bersejarah yang ada di Bengkulu.
Ditempat ini aku menunggu seseorang yang telah mengirimiku sms untuk datang ke benteng ini dan memintaku menemaninya mengerjakan tugas sejarah yang diberikan dosennya. Aku berdiri diam di pintu masuk benteng menunggunya datang sambil memikirkan perkataannya kemarin saat kami bertemu di pantai. Apa maksud dari perkataannya? “Cuma kangen” kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Apa maksudnya? Apa dia punya perasaan yang sama denganku? Atau dia hanya meledekku seperti biasanya? Apakah aku tidak salah dengar? Pertanyaan itu terus datang bergantian di benakku hingga aku tak tahu sudah berapa lama ia berdiri disampingku.
“Kak Dani baru datang ya?” sapaku terkejut karena melihatnya sudah ada disampingku. Dia memakai kaus putih serta jeans hitam yang menonjolkan postur tinggi tubuhnya, itu semua sangat pas dibadannya dan dia juga selalu memiliki tatanan rambut yang terkesan sangat acak-acakan tetapi tetap saja semua itu membuatnya terlihat sangat memukau. “Bahkan kamu nggak tahu sudah berapa lama aku berdiri disini? Disampingmu? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sampai-sampai kamu tidak menyadari kehadiranku?” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya diapun menggodaku “kamu mikirin cowok ya? Siapa? Pacar baru? Atau orang yang kamu suka? Kok nggak cerita sama kakak sih?” “Ih kakak, udah donk aku bukan mikirin cowok tau” aku tersenyum malu. “Aku hanya kepanasan aja nungguin kakak disini, lama banget kakak datang” aku mengalihkan pembicaraan. Dia menepuk-nepuk bahuku dan berkata “apapun itu, jangan suka melamun lagi ya. Nggak bagus loh cewek suka melamun sendirian. Ayo masuk!” Dia menggandeng lenganku dan tersenyum. Senyum itu, seberkas senyum tipis terlukis diwajahnya, senyum yang sangat memseonaku. “Eh ayo donk, katanya panas disini” ajaknya lagi sambil menarik lenganku. “Iya-iya ayo kak” jawabku sambil mengikuti langkahnya.
“Kita mulai darimana kak? Meriam? Penjara? Atau bagian atas benteng?” tanyaku. “Hmm.. kurasa bagian atas benteng cukup memberikanku inspirasi” sahutnya bersemangat. Aku hanya mengangguk pelan dan mengikutinya.
Sesampainya kami dibagian atas benteng, mata kami tertuju pada pemandangan pantai Tapak Paderi yang sangat indah. Cuacanya sangat bersahabat saat itu, membuat langit kota Bengkulu terlihat menawan, langit yang bertahtakan susunan awan putih bersih yang menggantung bergerak perlahan dengan paparan cahaya matahari menyinari setiap sudut kota, sungguh keindahan yang tak dapat dilukiskan. Belum selesai aku merengguk semua keindahan itu, lamunanku terpecahkan dengan sentuhan lembut di bahuku “kita foto yuk untuk kenang-kenangan” senyum menyeringai itu kembali terlukis diwajahnya, aku hanya membalas perkataannya dengan sebuah anggukan pelan.
Setelah puas menikmati pemandangan di benteng Malborough, kami pergi mencari makanan untuk mengganjal perut dan lalu pergi berkeliling untuk menikmati keindahan lain yang ada di kota Bengkulu. “Kita ngapain lagi ya? Mau main air?” tanyanya padaku, aku mengangguk pelan sebagai tanda setuju. Setelah puas berkeliling, kamipun menuju tempat favorit kami yaitu pantai Panjang.
Sesampainya disana, dia langsung berlari kegirangan menuju segulung ombak yang cukup tinggi. Dia terus berlari mendekat saat gulungan ombak itu jauh dan berlari menjauh saat ombak itu mulai mendekati kakinya. Senyum sumringah tergambar diwajahnya saat sebuah gulungan ombak membasahi sebagian kakinya. Aku tertawa dan  menggeleng-gelengkan kepalaku saat melihatnya. Dia sangat lucu, tingkah kekanakannya itu sangat tidak sesuai dengan penampilannya yang sangat dewasa. Tanpa sadar pandanganku terpaku padanya. “Elena, sedang apa kamu disana? Apa ada yang salah? Kenapa kamu tidak ikut bermain seperti biasanya?” tanyanya membuyarkan lamunanku. “Nggak kak masih panas banget nih, aku akan menyusulmu saat teduh nanti” “baiklah Elenaku” senyum kembali tergambar diwajahnya yang terlihat sedikit mutung terbakar terik matahari siang itu. Tunggu.. Elenaku? Apa maksudnya itu? Sejak kapan dia memanggilku dengan nama itu? ‘Elenaku’ apa maksudnya? Sebenarnya ada apa dengannya? Sikapnya belakangan ini membuatku bingung. Apakah dia tahu apa yang kurasakan atas kehadirannya? Pertanyaan itu terus berputar di benakku. Arrggghhh semua ini membuatku gila.
Hari sudah mulai teduh, akupun berjalan menghampirinya yang sudah basah lebih dari setengah badannya. Melihat bajuku yang masih belum tersentuh air, diapun menyeretku untuk ikut dengannya. Aku mengejarnya dan bertujuan ingin mendorongnya hingga ia tersungkur tapi tetap saja aku kalah dan jatuh tersungkur. Tentu saja aku kalah melawan seorang pemuda yang memiliki tinggi 183cm itu. Kami menghabiskan sisa hari itu dengan terus bercanda. Satu hari yang sangat sempurna itu ditutup dengan gerimis yang turun tiba-tiba disenja itu.

***

Pagi yang cerah menyambut kehadiranku di pantai itu. Mentari pagi mulai menduduki singgasananya. Semilir angin membelai lembut wajahku membuat aku merasa nyaman ada disini. Rasa nyaman itu mengingatkanku akan kejadian seminggu yang lalu, kejadian itu terasa bagaikan sebuah mimpi indah bagiku. Panggilan itu, pertamakalinya dia memanggilku dengan nama asliku. Aku bahkan tak ingat jika dia mengetahui namaku. “Beep beep” tiba-tiba hp-ku berbunyi membuatku terbangun dari lamunanku.
“Elena, ayo kita ketemu. Udah lama kita nggak kumpul-kumpul. Aku tunggu di kafe biasanya ya.”
Aku tersenyum membacanya, ternyata sahabatku Mika yang mengirimiku sms ini. Ahh.. sudah berapa lama kami tak bertemu? Ada banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padanya terutama tentang kak Dani, ah iya kak Dani. Bagaimana kabarnya saat ini? Sudah seminggu aku tak bertemu dan mendengar kabarnya lagi. Kenapa aku merasa ada yang hilang dari hidupku? Apa ini? Apa aku merindukannya? Mengapa hatiku terasa hampa saat aku menyadari hal ini? Arrrgghhh, aku mengacak-acak rambutku, semua ini membuatku gila, oh iya aku hampir lupa Mika sudah menungguku.
Aku bergegas menuju BIM untuk menemui sahabatku. Ternyata dia sudah menunggu di plataran salah satu kafe disini.
“Aduh Elena.. kamu kemana aja sih? Kok lama banget?” dia mengomeliku dengan gaya cerewetnya yang khas. “Maaf Mika, aku hampir lupa tadi hehe.” aku sedikit terkekeh menjawab pertanyaannya. “Ck ck ck, kebiasaan lamamu ternyata belum hilang ya” sahabatku itu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahkuh. “Ayo masuk Mika” aku menggamit lengannya dan masuk ke kafe bersamanya.
Kamipun mengambil posisi tempat duduk di sudut ruangan kafe yang memberikan sudut pandang sempurna saat memandang keluar. Aku menyibukkan diriku dengan memandang kendaraan yang lalu-lalang diluar kafe yang melaju dengan cepatnya, aku mencoba untuk memandang lebih jauh lagidan terlihatlah debur ombak dibawah rindangnya pohon cemara yang berderet di sepanjang tepi pantai itu.
Kesibukanku terhenti ketika seorang pelayan muda dengan perawakan yang lumayan tinggi menghampiri meja kami. “Mau pesan apa mbak?” sapanya lembut kepada kami. Kamipu mulai sibuk memilih menu apa yang akan kami pesan, aku memilih milkshake stroberi dan seporsi nasi goreng sedangkan sahabatku memesan jus mangga dan seporsi kentang goreng. Setelah pelayan itu pergi, aku dan sahabatku mulai berbincang tentang kegiatan kami masing-masing.
Kemudian sebuah pertanyaanpun tercetus darinya “eh iya, kamu masih berhubungan sama kak Dani? Gimana perasaan kamu? Masih sama nggak sama dia?” Aku hanya tersipu malu mendengar pertanyaan darinya sambil berkata “ah kamu masih inget aja ya. Kami sempat hilang kontak selama beberapa bulan, tapi aku bertemu lagi dengannya di pantai itu” aku menunjuk debur ombak pantai Panjang yang tampak indahnya dari tempat kami. Aku menghela napas panjang dan melanjutkan “aku masih menyukainya, tapi aku masih tetap tak tahu tentang perasaannya padaku. Seperi biasanya dia memang bersikap baik dan cuek, tapi belakangan sikapnya ini sangat berbeda”.
“Berbeda? Beda gimana? Apa dia ngejauhin kamu? Atau dia bersikap kasar sama kamu?” wajah cerianya berubah serius. Pelayan tadi kembali ke meja kami untuk mengantar pesanan. Aku menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutku dan cepat-cepat menelannya sebelum aku menjawab pertanyaannya “bukan Mika bukan ngejauhin ataupun kasar sama aku. Tapi kan kamu tahu sendiri dia nggak pernah manggil nama aku, biasanya dia memanggilku dengan sebutan cewek aneh ataupun ejekan-ejekan lain.” Mika hanya menatap sepiring kentang goreng yang ada dihadapannya saat dia mendengar jawabanku. “Dia juga bilang kalo dia kangen sama aku. Aku jadi bingung, apa aku yang salah menerjemahkan maksudnya? Semua kata-kata dan perhatiannya padaku sungguh membuatku bingung. Mika, apa kak Dani punya perasaan yang sama sama aku? Apa dia tahu perasaanku? Atau cuma aku yang salah pengertian akan sikapnya? Ahhh aku bingung Mika.”
“Elena, sepertinya dia menyukaimu juga dan menurutku dia itu orang yang tidak bisa terus terang mengungkapkan perasaannya. Kalo aku sih nyaranin kamu untuk ungkapin aja perasaan kamu ke dia, kan nggak ada salahnya”
Aku terkejut mendengar jawabannya “apa? Mana mungkin aku ungkapin perasaanku Mika. Apa kamu bercanda?” Nada bicaraku terdengar lebih tinggi dari yang kuniatkan. “Santai aja donk, aku kan cuma ngasih saran. Ya udah deh, kita makan aja dulu” dia menjawab enteng lalu mulai memakan kentang goreng pesanannya.
Aku memikirkan perkataan sahabatku, mungkin dia benar, mungkin aku harus menuruti saran Mika. Tapi apa aku bisa? Benarkah aku harus mengungkapkan perasaanku? Ahh aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Heh, kamu mikirin apa lagi sih? Mikir kak Dani lagi ya? Jangan suka melamun, nggak bagus tahu. Lagian nasi goreng kamu udah dingin tuhh”
“Ih siapa juga yang melamun, aku baru mau makan nih”
Setelah selesai makan, kami berdua memutuskan untuk menghabiskan sisa hari itu dengan berkeliling di sekitar pantai.

***

“Elena apa kabar? Hari ini ada waktu luang nggak? Bisa temenin kakak sebentar? Kakak tunggu ya di tempat biasa.”
Pesan singkat dari kak Dani menjadi ucapan selamat pagi untukku di hari itu. Setelah membaca pesan itu aku bergegas mengganti baju kausku dengan gaun hitam pas badan yang kupadukan dengan sepatu ber-hak tinggi yang senada dengan bajuku.
Saat aku hendak keluar dari rumahku, aku melihat lamborghini berwarna hitam kumbang sudah terparkir rapi di halaman “ahh ternyata dia menjemputku” ucapku dalam hati. Aku langsung bergegas keluar dan mendapatinya sedang duduk terpaku di kap depan mobilnya. Dia mengenakan kemeja biru langit pas badan yang dipadukan dengan celana jeans senada dan jangan lupa tatanan rambut berantakannya yang membuatnya tampak sangat mempesona.
“Elena, kamu cantik sekali dengan gaun itu” walau dia mengatakannya dengan suara pelan aku dapat mendengarnya dengan jelas dan melihat sebuah senyum simpul yang terlukis diwajahnya saat dia mengatakannya. “Selamat pagi” ucapnya saat aku sudah berada tepat didepannya. Aku hanya mengangguk pelan seraya berkata “selamat pagi juga kak. Kemana kita hari ini?”
“Ayo masuk, aku akan mengajakmu ketempat yang sangat spesial”
Aku hanya mengikutinya tanpa tahu tujuan kami yang sebenarnya. Sepanjang perjalanan, aku menyibukkan diriku dengan beberapa pertanyaan yang terus muncul di pikiranku. Tempat spesial? Tempat apa yang dia maksudkan? Dia mau mengajakku kemana? itulah yang terus terlintas dalam benakku.
“Kita sudah sampai, ayo turun” perkataannya membuatku terkejut dan refleks aku langsung turun dari mobil.
Sebuah pintu besi besar dengan ukiran kata-kata yang terukir indah berdiri kokoh dihadapanku. “Benteng Malborough? Ini tempat spesial yang kakak maksud? Bukankah minggu lalu kita sudah datang kemari? Apa kakak ada tugas sejarah lagi?”
“Sabar nona manis, coba tebak apa yang tidak seperti biasanya dari benteng ini hari ini?” nada suaranya sangat misterius. Belum sempat aku menjawabnya dia sudah melanjutkan perkataannya lagi “Ahh sudahlah terlalu lama jika kamu memikirkannya dulu, betulkan Elena?” dia menatap mataku dalam dan melanjutkan perkataannya “hari ini aku sengaja mempersiapkan beberapa kejutan untukmu. Salah satunya adalah pintu benteng ini. Orang-orang tidak pernah memperhatikan betapa megah benteng ini jika dilihat dengan pintu tertutup” senyum tipis mengakhiri kalimatnya, yang membuatku semakin bingung.
Ternyata dia benar juga, benteng ini tampak sangat menawan dan membuatku penasaran apa saja yang ada didalamnya dengan pintu yang tertutup ini, walaupun aku sering berkunjung kesini, tapi rasa penasaran itu tetap saja datang saat aku melihat pintu itu tertutup. Tiba-tiba pintu itu terbuka perlahan dengan bunyi berdecit yang membuatku terkejut.
Dia mengajakku masuk langsung menuju ke bagian atas benteng, dan tampaklah pemandangan yang tak biasa. Pemandangan matahari terbit yang sangat memanjakan mata, membuatku merasa nyaman. Dia tampak menutup mata dan membentangkan tangannya seraya menghirup udara dalam-dalam sembari berkata “Elena, apa kamu tahu bagaimana perasaanku? Ya aku merasa sangat bahagia.” Dia membuka mata dan menurunkan kedua tangannya lalu menatapku “apa yang kamu rasakan?” tanyanya. Aku menunduk menimbang apakah aku harus jujur tentang perasaanku yang sebenarnya? Mungkin lebih baik aku bertanya padanya. Aku berdebat dengan diri sendiri didalam hatiku, akhirnya akupun membuat sebuah keputusan. Aku memberanikan diriku untuk bertanya “kakak, aku mau tanya. Apa kakak sayang sama aku?” akhirnya aku mengatakannya.
“Hahahahaha Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku menyayangimu Elena” dia tertawa terbahak-bahak menjawabnya.
“Kakak aku serius tahu, ayo donk jawab dengan jujur kak” aku menjawabnya dengan nada serius.
Tiba-tiba dia berhenti tertawa dan berkata dengan nada serius “ya Elena tentu saja aku menyayangimu, itulah alasanku membawamu kemari. Karena ini akan menjadi tempat yang spesial Elena”. Aku menghela napas lega mendengar perkataannya. Belum sempat aku menjawab, dia melanjutkan kata-katanya “tempat ini akan menjadi saksi bisu cintaku Elena. Besok aku akan melamar kekasihku disini. Sebelum masuk tadi aku sudah bilang kalo aku sudah mempersiapkan kejutan untukmu kan? Ya itulah kejutannya. Bagaimana menurutmu? Ide yang hebat bukan? Aku sangat menyayangimu dan aku sudah menganggapmu sebagai adik kecilku, karena itu aku mengajakmu kasini dan memberitahumu tentang ini. Aku takut membuatnya kecewa jika aku salah memilih tempat. Bagaimana menurutmu Elena?”
Aku hanya terdiam mendengarnya. Aku berusaha membendung air mataku, dadaku terasa penuh sesak menahan sakit dan kecewa yang kurasa. Aku menundukkan kepalaku, tulangku serasa remuk, aku merasa tak dapat berdiri lagi, seluruh badanku bergetar. Aku berusaha menenangkan diri dan berkata dengan suara pelan “pilihan yang sangat bagus kak” suaraku bergetar. Aku membendung airmata yang ingin keluar dengan sebuah senyum yang kupaksakan akupun mengangkat kepalaku dan menatap matanya “dia akan sangat menyukainya, ini adalah tempat yang sangat sempurna” aku menghela napas panjang lalu berkata “Oh iya kak aku hampir lupa, hari ini aku ada janji sama Mika. Mungkin dia sudah menungguku sekarang. Maaf kak aku nggak bisa nemenin kakak sampai selesai. Aku pergi duluan ya?” Hanya itu yang mampu ku ucapkan padanya aku langsung membalikkan badanku dan berjalan menuju pintu utama benteng “kamu janjian dimana? Biar kuantar ya?” suaranya menghentikan langkahku. Aku hanya menggelengkan kepalaku, kembali berjalan keluar dan berniat untuk mencari kendaraan umum yang bisa mengantarkanku ke pantai itu.

***

Aku terbaring tak berdaya diatas hamparan pasir, membiarkan badanku yang tersengat panasnya sinar matahari basah diguyur ombak. Dadaku sesak, jantungku berdegup cepat, tubuhku terasa lemas, napasku tersendat-sendat, air mataku terus terjatuh tanpa henti. Hatiku hancur, hidupku serasa hancur, semua yang kulakukan hanya berakhir sia-sia. Sikap manisnya itu ternyata bukan karena dia mempunyai perasaan yang sama padaku, ternyata perasaannya hanya sebatas sayang terhadap adik perempuan. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku salah mengartikan perasaannya? Besok dia akan melamar kekasihnya, wanita itu akan menjadi pemdamping hidupnya, dia adalah wanita yang beruntung.
Walau remuk redam hatiku, kupaksakan bibirku untuk tersenyum. Tapi saat ini, disini, aku ingin menghabiskan air mataku hingga aku tak lagi dapat menangis. Aku ingin menghabiskan semua rasa sedihku agar aku tak lagi bisa merasa sedih. Akan kusimpan perasaanku, takkan kubiarkan dia mengetahui hal ini, aku ingin terus melihat senyum bahagia yang terukir indah diwajahnya bagaikan mentari senja di pantai ini. Akan kuukir semua kenangan indah yang telah kita lalui bersama, walau aku hanya sebatas adik bagimu.

***

Pantai Panjang, saksi bisu perasaanku ini akan setia menemaniku, mendengar semua ceritaku, dan menyimpan semua rahasiaku. Selamat jalan cinta pertamaku, semoga hidupmu selalu dalam balutan kebahagian seperti matahari senja yang selalu memberi balutan warna oranye indah disetiap sudut pantai ini. Aku akan terus mencintai ombak ini, ombak yang selalu setia kembali walau sejauh apapun jarak yang harus ditempuhnya.
Hidup adalah perasaan senang, sedih, dan marah yang berkumpul menjadi satu membentuk sebuah harmoni indah yang ada didalam hati setiap insan didunia. Disetiap kehidupan manusia selalu ada hal-hal yang tidak mereka inginkan untuk terjadi tetap terjadi. Perasaan itu bagaikan ombak yang tanpa henti-hentinya menerpa sebuah batu karangbesar. Walau terpaan ombak akan mengikis permukaannya, batu karang itu terus berdiri dengan gagahnya karena kikisan itu akan menjadi pasir yang indah dan berkilau.
Itulah kehidupan, setiap kejadian yang membuat kita merasa senang, sedih, ataupun marah, adalah terpaan ombak kehidupan yang akan sedikit demi sedikit mengikis kita. Akan tetapi, kikisan ombak kehidupan itu akan membuahkan pasir yang indah dan berkilau nantinya.

~THE END~

Cerpennya gaje ya? Kekeke, I know that^^ Tapi, saya akan tetap terus menulis. Karena, menurut saya menulis itu bisa mengembangkan mimpi dan harapan saya. Menulis juga bisa menumpahkan semua rasa sakit, senang, sedih, bahkan marah yang saya rasakan.. Thanks banget untuk readers setia yang udah nyempetin waktunya untuk baca cerita ini.
Yang pasti, RCL (Read+Comment+Like) Please ^^ 

Copyright © 2014 Vanila Shina